News

Indonesia optimis kurangi pencemaran sampah plastik di laut

REPORTED BY: Siti Dzakiyyah

Indonesia optimis kurangi pencemaran sampah plastik di laut Penelitian terakhir memperkirakan bahwa saat ini ada lebih dari 150 juta ton plastik di laut. Dalam skenario bisnis seperti biasa, pada tahun 2050, akan lebih banyak plastik daripada ikan.

Fakta dan riset menunjukkan bahwa lebih dari 8 juta ton plastik berakhir di samudera. Penelitian terakhir memperkirakan bahwa saat ini ada lebih dari 150 juta ton plastik di laut. Dalam skenario bisnis seperti biasa, pada tahun 2050, akan lebih banyak plastik daripada ikan.

Studi lain menunjukkan bahwa semua potongan-potongan sampah yang ada dalam perut ikan dari Indonesia terdiri dari plastik, sedangkan pada ikan dari Amerika Serikat 20% dikonfirmasikan terdiri dari plastik dalam bentuk serat.

Dalam rangka Hari Samudera Dunia dan sebagai bagian dari Kampanye Clean Seas, Badan PBB untuk Lingkungan untuk pertama kali memberi penghargaan kepada 5 orang Ocean Heroes dari Indonesia, India, Inggris Raya, Thailand dan Amerika Serikat.

Pengacara sekaligus Direktur Gerakan Diet Kantong Plastik Indonesia (GIDKP), Tiza Mafira telah mengkampanyekan pengendalian dan penghapusan plastik sekali pakai sejak 2013. Dia mendorong pelarangan penggunaan kantung plastik sekali pakai di kawasan-kawasan ritel.

Organisasi Ocean Hero 2018 dari Indonesia meluncurkan petisi pada tahun 2015 untuk meminta pengecer tidak lagi memberikan kantung plastik secara gratis.

Tahun berikutnya, uji coba nasional kantong plastik berbayar diperkenalkan. Setelah enam bulan, ada pengurangan penggunaan kantong plastik yang signifikan (55%).

Meski uji coba ini dihentikan karena tidak tercapai kesepakatan diantara semua pihak, beberapa provinsi berinisiatif menyiapkan peraturan mereka sendiri dan dua kota di Indonesia telah melarang kantong plastik di toko ritel modern.

“Saya berterimakasih kepada Badan Lingkungan PBB (UN Environment) yang telah memberi apresiasi pada upaya-upaya yang telah kami lakukan selama ini. Sungguh tidak diduga dan merupakan kejutan yang menyenangkan karena ternyata UN Environment menghargai perjuangan kami untuk mengurangi pencemaran di lautan,” kata Tiza Mafira.

Penghargaan ini, ungkap Tiza akan didedikasikan juga kepada GIDKP, Pemerintah Daerah dan Kementerian yang telah bekerjasama untuk mendorong plastik tidak gratis atau penghentian plastik sekali pakai.

“Saya optimis kita bisa mencapai tujuan ini bersama-sama,” papar Tiza.

Tiza menambakan bahwa persoalan pencemaran plastik ini sebetulnya solusinya sudah cukup jelas.  Dirinya optimis bahwa kota-kota besar di Indonesia mampu mengambil keputusan tepat dan bijak untuk mengatasi pencemaran plastik.

Terbukti, setelah periode uji coba kantong plastik tak gratis, beberapa kota melanjutkan kebijakan itu dengan inisiatif mereka sendiri. Salah satunya adalah Kota Banjarmasin, yang menunjukkan komitmen dengan menghentikan peredaran kantong plastik di semua ritel.

Selanjutnya, Kota Balikpapan juga telah menyusul dengan mengeluarkan peraturan penghentian kantong plastik di ritel efektif Juli 2018.

Dengan dorongan aktif dari GIDKP dan dukungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kota Banjarmasin, pada bulan Februari yang lalu, 24 daerah menyatakan komitmen mereka untuk merumuskan strategi pengurangan sampah kantong plastik.

Langkah ini dilakukan untuk merumuskan strategi nyata mengurangi sampah kantong plastik di ruang-ruang publik, termasuk di laut.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan Brahmantya S. Poerwadi mengaku bangga akan kerja keras anak negeri tersebut.

"Kami bangga anak muda Indonesia seperti Tiza mendapat penghargaan dari UN Environment sebagai salah satu Ocean Heroes 2018. Pencemaran di laut dan samudera Indonesia yang sangat luas membutuhkan champions dan leaders, terutama dari kelompok generasi muda seperti Tiza dan kawan-kawan," kata Brahmantya.

Brahmantya menyebut upaya pengendalian dan pengurangan pencemaran plastik mulai dari kantong kresek dan sampah plastik lain di daratan, terutama di kota-kota/kabupaten-kabupaten pesisir dan sungai, berperan penting untuk mengurangi pencemaran plastik di laut dan samudera.

“Kami harap penghargaan bergengsi ini kepada Tiza dapat menginspirasi lebih banyak pihak dan mendukung pencapaian target Indonesia membebaskan laut kita dari pencemaran plastik pada tahun 2025," papar Brahmantya.

Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Persampahan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Novrizal Tahar. Dirinya mengaku bangga dan mengapresiasi kinerja anak bangsa dalam upaya membebaskan laut dari pencemaran plastik dan sampah.

“Tiza adalah anak muda Indonesia yang punya idealisme dan konsisten dengan visinya. Ide yang fenomenal didorong Tiza bersama kawan-kawannya adalah saat membangun gerakan masyarakat "kantong plastik tak gratis" tahun 2016,” kata Novrizal.

Menurutnya  Isu tentang ‘kantong belanja sekali pakai’ merupakan isu yang tidak ringan, karena banyak mendapatkan tantangan dari pihak-pihak yang terganggu dengan kenyamanan status quonya.

Namun demikian, Novrizal mengungkap sebenarnya Indonesia sudah punya perangkat peraturan yang memadai, tinggal pelaksanaan di daerah dan pengawasannya yang harus ditingkatkan.

Pada saat ide “kantong plastik tidak gratis” diluncurkan, hampir semua media cetak papan atas nasional menempatkan isu dan berita tersebut pada headline dan halaman muka. Menurutnya, permasalahan tersebut memicu perhatian media yang demikian intensif terhadap isu kantong plastik sekali pakai.

”Pemerintah perlu lebih tegas lagi dalam mengatur kantung plastik sekali pakai. Peraturan yang permanen untuk pelarangan dan pembatasan plastik sekali pakai perlu secepatnya dikeluarkan terlalu karena terlalu lama peraturan permanen tertunda-tunda pengesahannya,” tambahnya.

Direktur Eksekutif Nasional WALHI Nur Hidayati mengatakan uji coba yang berjalan dengan baik dan kampanye perlu dilanjutkan dengan peraturan yang lebih permanen.

“Lebih luas lagi pelarangan dan pembatasan kemasan plastik sekali pakai lain juga perlu dilakukan dalam kerangka Kota Nir Sampah (Zero Waste Cities),” papar Nur.

Nur menambahkan pencemaran plastik di perairan dan samudra semakin kritis dan butuh aksi cepat tanggap yang nyata. Dirinya menghimbau kota-kabupaten pesisir dan sungai, untuk berkomitmen lebih jauh.

Senior Advisor BaliFokus dan AZWI (Aliansi Zero Waste Indonesia) Yuyun Ismawati mengatakan mereka mendesak dan mengaharapkan 40 kota tahun ini untuk melarang dan menghapuskan 5 besar: plastik kresek, sedotan plastik, styrofoam, kemasan sachet kecil dan microbeads.

“Kota-kota pesisir dan sungai dapat mengendalikan pencemaran plastik serta penanganan sampah di sungai dan laut sebagai bagian dari Kebijakan Strategi Daerah (Jakstrada),” papar Yuyun.

 

300 Purnawirawan Jenderal TNI dukung Prabowo-Sandi
 Ini alasan perempuan IJMA dukung Jokowi-Ma'ruf
DPR ingatkan pendukung paslon untuk bersikap dewasa selama Pilpres
Ma'ruf Amin optimistis P-IJMA raup banyak suara perempuan di Pilpres
Manfaat yoghurt untuk kecantikan alami
Dapat nomor urut 2, ini respons Timses Prabowo-Sandi
Mengenang sosok menteri termiskin kesayangan Soekarno dan Soeharto
Ini tiga tugas wajib caleg Gerindra
Prabowo-Sandi ke KPU diiringi drum band dan pencak silat
Jokowi minta Menko panggil Mendag dan Kabulog terkait polemik beras
 Jokowi-Ma'ruf ambil nomor urut di KPU ditemani oleh Ketum Parpol
Rupiah menguat imbas sentimen positif dari Bank Dunia
Polemik beras dapat timbukan kecurigaan di masyarakat
Dieliminasi KPU dari daftar caleg DPD, Oso melawan
Meski memaafkan, SBY tetap akan bongkar fitnah Asia Sentinel
Fetching news ...